KUMPULAN ARTIKEL

MOTIVASI

ASKEP

LIFESTYLE

HEALTH

BLOGGING


Sabtu, Januari 09, 2010

Nyeri Pada Penyakit Kardiovaskular


Nyeri pada kardiovaskular merupakan referand pain, seperti pada nyeri pasien infark miokardial, yang dilukiskan sebagai nyeri yang paling buruk yang dialami pasien. Merupakan nyeri visceral yang dalam dan kata-kata sifat yang dipakai adalah berat, menekan dan menghancurkan, serupa sifatnya dengan nyeri dari angina pectoris tetapi lebih gawat dan jauh lebih lama.


Secara khas nyeri, mulai secara gradual, nyeri melibatkan bagian sentral dari dada dan efigastrium dan menjalar ke lengan, penjalaran nyeri yang kurang lazim adalah abdomen, punggung, rahang dan leher. Nyeri infark miokardial tidak menjalar keatas keatas maxilla atau kebawah pusar.
Nyeri sering diikuti kelemahan, berkeringat, mual, muntah, pusing dan ketakutan menyolok, tidak hilang dengan istirahat. Secara khas nyeri infark miokardial menyebabkan pasien bergerak-gerak dalam usaha menemukan posisi yang nyaman.
Dalam banyak hal cirri-ciri yang menonjol dari penampilan pasien adalah reaksinyaterhadap nyeri, ketakutan khas dan gelisah, berusaha meredakan nyerinya denga bergerak-gerak ditempat tidur, berbelit-belit, mengeliat, bertahak atau bahkan berusaha muntah. Lazimnya pucat dan extrimitas dingin.

Penanganan

  1. Meredakan nyeri :

  2. Infark myocardial biasanya disertai nyeri yang hebat, oleh karena itu salah satu objek yang terapeutik inisial adalah meredakan nyeri. Morphine, obat yang secara tradisi dipakai untuk maksud ini, masih tetap efektif dan tetap merupakan obat pilihan.

    • Morphine dapat menurunkan tekanan arterial dengan menurunkan konstriksi arteriolar dan venus yang terjadi secara simpatetik. Pooling venus sebagai hasilnya dapat menimbulkan reduksi pada curah jantung. Ini harus disadari tetapi tidak perlu mengkontraindikasikan pemakaiannya.
      Kulit dapat menjadi dingin dan basah, tetapi pasien dapat mengeluh mual-mual, tetapi kejadian ini biasanya lewat dan diganti oleh perasaan keadaan baik bertalian dengan meredanya nyeri.
      Adalah penting untuk mengetahui sindrom ini dalam kaitannya dengan morphin, karena hipotensi dan tanda-tanda kontriksi perifferal dapat disalah interpretasi sebagai manifestasi-manifestasi sindrom shock dianggap sebagai dasar-dasar untuk memulai terapi vasokontriktor atau lain yang tidak akan tepat.
      Hipotensi bertalian venous pooling biasanya beresponsi langsung dengan meninggikan kaki. Morphine juga mempunyai efek vagotonik dan dapat menyebabkan bradikardia, khusus pada pasien-pasien dengan infark diagfrahmatik.

    • Pemberian Sulfas Atropine 0,4 mg IV harus diberikan sebelum injeksi morphine bila ada bradikardia atau sblock ssetiap derajat. Karena efek samping potensial ini, maka dianjurkan mensel3eksi dosis efektif minimal morphine yang meredakan nyeri. Ini dapat dicapai lebih baik dengan injeksi IV repetetif tiap 5 menit dosis kecil obat 2 – 4 mg dari pada pemberian jumlah besar dengan jalan IV atau subkutan.

  3. Pemberian Oksigen.

  4. Pemberian Oksigen rutin disokong oleh observasi bahwa Po2 pada banyak pasien dengan infark miokardial dan bahwa inhalasi oksigen mengurangi ukuran infark, pemberian oksigen harus diberikan dengan sungkup, face mask atau nasal kanul untuk 2 sampai 3 hari pertama setelah infark.
  5. Pengurangan aktifitas

  6. Tujuan pengurangan aktifitas fisik adalah untuk mendapatkan keadaan-keadaaan yang paling menguntungkan untuk penyembuhan ini. Factor-faktor yang menambah pekeerjaan jantung dapat menambah ukuran infark miokardial. Keadaan-keadaaan, yang mengakibatkan bertambahnya ukuran jantung, curah jantung, atau kontraktelitas myocardial, harus dihindari. Semua pasien dengan infark miokardial harus dimasukan ke unit perawatan koroner selama 3-4 hari, dengan observasi terus-menerus oleh perawat yang terlatih dan memakai monitor elektrokardiografik terus-menerus.
    Infus harus terpasang pada vena perifer, dan difiksasi dengan kuat agar tidak lepas, cairan yang trpasang adalah larutan glukosa dengan tetesan lambat, yang merupakan jalan untuk pemberian obat anti aritmia atau obat lain yang mungkin diperlukan.
    Selama 2 – 3 hari pertama bila tidak ada pump failure pasien harus bedresthampir sepanjang hari dengan satu atau dua periode 15 – 30 menit duduk dikursi sebelah tempat tidur.
    Pasien dapat memakai commode disamping tempat tidur dan harus dimandikan oleh perawat.
    Pasien boleh makan tanpa bantuan. Tempat tidur harus ada footboard dan pasien harus mendorong kakinya pada footboard itu dengan kuat 10 kali selama jam bangun, untuk mencegah stasis venous dan thromboembolisms dan untuk memelihara tonus otot pada kaki.
    Pasien biasa yang perjalanan penyakitnya tidak berkomplikasi dapat dikeluarkan dari unit koroner pada hari ketiga atau ke empat. Pada saat-saat itu pasien harus duduk 30 sampai 60 menit dua kali sehari. Ada baiknya dalam tahap mengukur tekanan darah pasien dalam keadaan berdiri, agar dapat waspada terhadap hipotensi postural, yang dapat merupakan problem bila dimulai mobilisasi.
    Berdiri dan mobilisasi bertahap biasanya dimulsi kira-kira antara hari kelima dan kedelapan post infark myocardial transmural dan nontransmural yang tak berkomplikasi
    Mobilisasi permulaan adalah ke kamar mandi bila ada dikamar pasien atau didekatnya.
    Mobilisasi ditingkatkan secara progresif, pada akhirnya termasuk berjalan-jalan dilantai RS, lamanya total hospitalisasi dalam kasus-kasus tak berkomplikasi biasanya 10 – 14 hari, tetapi banyak dokter yang masih menahan pasiennya dengan infark transmural untuk 3 minggu, hal ini tergantung kecepatan membaiknya payah jantung kongestif dan situasi rumah dimana pasien akan kembali.
    Sisa fase konvalensensi infark miokardial dapat dijalankan dirumah.
    Beberapa dokter menahan pasien pada satu lantai sampai memenuhi konvalensensi 5 minggu, dan diperbolehkan naik satu tangga keatas dan kebawah tiap hari, dimulai beberapa hari setelah dikeluarkan dari RS, 5 sampai 8 minggu, pasien harus dianjurkan menambah aktivitas dengan jalan-jalan sekitar rumah dan keluar bila cuaca baik.
    Pasien harus ditempat tidur 6 sampai 8 jam tiap malam, periode-periode istirahat tambahan pagi-pagi dan sorre dapat dianjurkan.
    Setelah 8 minggu keatas, pasien harus mengatur aktivitasnya berdassrkan toleransinya trhadap exercise. Selama periode peningkatan aktivitas inilah pasien dapat timbul kecapaian yang menyolok. Hipotensi postural masih tetap dapat merupakan problem. Kebanyakan pasien dapat kembali bekerja setelah 12 minggu.


Bila Artikel ini berkenan silahkan
DownLoad File Disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar