HOME
AsKep
Anatomi Fisiologi
Anatomi Patologi
Managemen Keperawatan
Kesehatan Umum
Lowongan Kerja
Tutorial Blog

UPAYA PENCEGAHAN INFEKSI DI POLIKLINIK

Infeksi nosokomial yaitu infeksi yang ditimbulkan dari tindakan medis,kemudian menjadi ancaman bagi petugas kesehatan dan pasien. Puskesmas dan Klinik umum merupakan ujung tombak pelayanan preventif dan kuratif bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Semua petugas kesehatan di tempat tersebut mulai dokter hingga petugas kebersihan beresiko menularkan penyakit. Pelaksanaan Universal Precaution ( Pencegahan Infeksi) merupakan langkah penting untuk menghindarkan Puskesmas / Klinik dari tempat penyembuhan menjadi sumber infeksi. Pedoman tentang pencegahan penularan penyakit melalui fasilitas kesehatan sangat dibutuhkan untuk melindungi pasien dan petugas kesehatan. Kebutuhan ini makin mendesak karena selain virus Hepatitis, HIV / AIDS juga dapat ditularkan melaui tindakan pada pelayanan kesehatan. Petugas kesehatan mempunyai resiko tertular karena tertusuk jarum atau terpapar darah /cairan tubuh yang terinfeksi. Sementara pasien dapat tertular melalui peralatan yang terkontaminasi atau menerima darah atau produk darah yang mengandung virus. Penelitian tentang upaya pencegahan infeksi di Puskesmas menunjukkan beberapa tindakan petugas yang meningkatkan resiko penularan penyakit kepada diri mereka, pasien yang dilayani dan masyarakat luas, yaitu :
1. Cuci tangan yang kurang benar.
2. Penggunaan sarung tangan yang kurang tepat.
3. Menutup kembali jarum suntik secara tidak aman.
4. Membuang peralatan tajam secara tidak benar.
5. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
6. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.
7. Sarana yang tersedia untuk melaksanakan pencegahan infeksi kurang mendukung.

KEGIATAN POKOK UNIVERSAL PRECAUTION.

Prinsip utama mencegah infeksi pada pelayanan kesehatan adalah menjaga hygiene sanitasi individu, hygiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi 5 kegiatan ;
1. mencuci tangan guna mencegah infeksi silang.
2. Pemakian sarung tangan dan alat pelindung lain guna mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain.
3. pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan.
4. Penatalaksanaan peralatan.
5. pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.

MENCUCI TANGAN GUNA MENCEGAH INFEKSI SILANG.

Mencuci tangan dengan benar adalah mencegah tindakan amat penting untuk menghilangkan / mengurangi mikroorganisma yang ada di tangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. Ada tiga cara cuci tangan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, yaitu :
1. Cuci tangan rutin.
2. Cuci tangan aseptic.
3. Cuci tangan bedah (surgical handscrub)

INDIKASI CUCI TANGAN
1. Sebelum tindakan
• Saat akan melakukan pekerjaan (baru tiba di kantor)
• Saat akan memeriksa (kontak langsung dengan pasien).
• Saat akan memakai sarung tangan steril atau sarung tangan yang telah didesinfeksi tingkat tinggi (DTT) untuk melaksanakan suatu tindakan.
2. Sesudah tindakan.
• Saat hendak pulang ke rumah.
• Setelah memeriksa pasien.
• Setelah memegang alat-alat bekas pakai dan bahan-bahan lain yang terkontaminasi.
• Setelah menyentuh membrane mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya.
• Setelah membuka sarung tangan (cuci tangan sesudah membuka sarung tangan perlu dilakukan karena ada kemungkinan bocor.)


PEMAKAIAN SARUNG TANGAN DAN ALAT PELINDUNG LAIN.

Secara garis besar, sarung tangan dan pelindung tubuh digunakan untuk mencegah pemaparan darah dan cairan tubuh dari pasien pada petugas kesehatan. Pelindung tubuh untuk pencegahan infeksi adalah sarung tangan, apron, masker, kacamata pelindung, penutup kepala dan sepatu (Study foot wear. Tidakn semua alat pelindung tubuh harus dipakai. Jenis pelindung tubuh yang dipakai tergantung pada jenis tindakan atau kegiatan yang akan dikerjakan.

PENGELOLAAN JARUM DAN ALAT TAJAM.

Langkah untuk menegah terjadi perlukaan karena peralatan tajam adalah sebagai berikut :
1. Setiap petugas kesehatan harus memperhatikan dengan cermat pengunaan jarum suntik dan benda tajam dan bertanggung jawab atas alat yang digunakannya.
2. Meletakan jarum yang telah digunakan pada kotak limbah tidak tembus.
3. Pastikan bahwa kotak limbah tempat pembuangan alat tajam ada di setiap ruangan.
4. Gunakan sarung tangan tebal saat mencuci peralatan dan alat tajam serta saat menangani kotak limbah yang berisi alat tajam.
5. Jangan menyerahkan alat tajam secara langsung dari satu petugas ke petugas lain. Gunakan tehnik tanpa sentuh (hands free) untuk memindahkan benda tajam.
6. resiko perlukaan harus ditekan dengan mengupayakan situasi kerja di mana petugas kesehatan mendapatkan pandangan bebas tanpa halangan dengan meletakan pasien pada posisi yang mudah dilihat, mengatur umber pencahayaan yang benar dan mengontrol perdarahan.
7. Gunakan pinset atau forcep saat mengerjakan penjahitan (suturing).
8. Jarum disposable bekas pakai jangan dibengkokkan, dipatahkan atau ditup kembali. Jika jarum terpaksa ditutp kembali (recapping), gunakan cara penutupan jarum satu tangan (single handed recapping method untuk mencegah jari tertusuk jarum.


TIPS & TRIK EKSTRIM MELAMAR PEKERJAAN

MEMBUAT WEBSITE ITU GAMPANG

BUAT WEBSITE SENDIRI ONLINE & GRATIS

PENANGGULANGAN KERACUNAN AKUT

Insidensi Dan Etiologi

Intoksikasi obat dapat timbul akut atau kronik. Dapat terjadi akibat usaha bunuh diri (tentamen Suicide), pembunuhan (homicide), maupun kecelakaan tidak sengaja (accident). Pada orang dewasa keracunan obat umumnya akibat bunuh diri, kebanyakan dilakukan oleh wanita muda (10 – 30 tahun).Penyebab keracunan pada orang dewasa terbanyak adalah insektisida fosfat organic (IFO), analgetika, minyak tanah, sedative-hipnotika, bahan korosif, dan pestisida lain (hidrokarbon klorin dan racun tikus). Pada anak terbanyak karena terminum minyak tanah.

Diagnosis
Pada setiap penderita yang sebelumnya tampak sehat, kemudian mendadak timbul gejala-gejala : koma, kejang-kejang, syok, sianosis, psikosis akut, gagal ginjal akut atau gagal hati akut, tanpa diketahui penyebabnya, pikirkan kemungkinan terjadinya keracunan akut.

Anamnesis
• Usahakan mendapatkan nama, jumlah bahan, serta saat penderita meminum obat.
• Tanya bekas-bekas bungkus, tempat, atau botol obat, resep terakhir, serta surat-surat yang mungkin baru saja ditulis.
• Tanya riwayat perselisihan dengan keluarga, teman dekat, teman sekantor tau ada tidaknya masalah ekonomi yang berat.
• Tanyakan usaha pengobatan yang telah dilakukan.

Pemeriksaan fisik
• Ukur tekanan darh,nadi, suhu dan frekuensi pernapasan.
• Tentukan tingkat serta sifat-sifat gangguan kesadaran penderita.
• Lakukan pemeriksaan fisik yang teliti, dan cari gejala-gejala keracunan yang mungkin timbul.
Sebagai contoh :
• Koma yang tenang (kalem) : golongan sedative-hipnotika
• Koma dengan gelisah sampai kejang-kejang : alcohol, INH, maupun insektisida hidrokarbon klorin.
• Adanya luka-luka sekitar mulut : bahan korosif.
• Adanya hipersalivasi, hiper hidrosis, pupil miosis :insektisida fosfat organic (IFO)

Pemeriksaan laboratorium
• Laboratorium rutin (darh, urin, feses, lengkap)tidak banyak membantu.
• Pemeriksaan khusus seperti : kadar kholinesterase plasma sangat membantu diagnosis keracunan IFO (kadarnya menurun sampai di bawah 50 %. Kadar meth- Hb darah : keracunan nitrit. Kadar barbiturat plasma : penting untuk penentuan derajat keracunan barbiturate.
• Pemeriksaan toksikologi :
1. Penting untuk kepastian diagnosis, terutama untuk “visum et repertum”
2. Bahan diambil dari :
- muntuhan penderita / bahan kumbah lambung yang pertama (100 ml)
- urine sebanyak 100 ml
- darah tanpa antikoagulan sebanyak 10 ml.

.PERTOLONGAN PERTAMA.

Sangat tergantung pada cara racun masuk ke dalam tubuh penderita.
A.Racun yang tertelan.
1. Baringkan penderita ditempat datar.
2. Usahakan untuk memuntahkan racun dengan cara :
- Merangsang faring dengan ujung telunjuk , pangkal sendok,
- Dengan memberi minum 15 -30 ml sirupipecac diikuti setengah gelas air minum, pada anak lebih dari 1 thun diberikan 150 cc, sedangkan pada anak 6 bulan sampai 1 tahun,10 cc dan tidak boleh diulang.
- Selanjutnya berikan karbon aktif (norit) sebanyak 25 – 40 gram. Pada anak 1 gram / Kg BB.

Kontraindikasi :
1. Kejang-kejang.
2. Koma.
3. Tertelan bahan korosif.
4. Tertelan bahankorosif (asam atau basa kuat).
5. Tertelan minyak (minyaktanah, bensin, minyak cat atau thinner).

B. Racun yang dihirup.
1. Bawa penderita segera ke udara bebas.
2. Berikan oksigen secepatnya, kalau perlu dilakukan pernapasan buatan.

C. Keracunan melalui kulit.
1. Bersihkan kulit yang terkena dengan air mengalir air keran) atau air pancuran (shower)
2. Selama melepas pakaian,tubuh penderita tetap diguyur dengan air.
3. kulityang terkena disabuni sebersih mungkin.
4. jangan lupa mengeramasi rambut penderita.

D. Keracunan melalui mata.
1. Lipat kelopak mata keluar.
2. Segera bersihkan mata dengan air mengalir sekitar 15 menit.


PENATALAKSANAAN DARURAT UMUM

• Dikerjakan bersama-sama dengan tindakan diagnostic, setelah pertolongan pertama selesai dikerjakan.
• Tujuan piƱata laksanaan umum.
- tindakan dasar untuk menyelamatkan kehidupan penderita.
- Mencegah penyerapan racun dengan cara menghambat absorpsi dan menghilangkan racun dari dalam tubuh.
- Menawarkan racun dengan antidotum (bila ada).


I.Resusitasi (ABC).
A. Airway atau jalan napas.
Bebaskan jalan napas dari sumbatan bahan muntahan, lender, gigi palsu, pangkal lidah dan lain-lain. Kalau perlu dengan “Oropharyngealairway”, alat penghisap lender. Posisi kepala ditengadahkan(ekstensi),bila perlu lakukan pemasangan pipa endotrakheal.

B. Breathing = pernapasan.
Jaga agar pernapasantetap dapat berlangsung dengan baik.

C. Circulation = peredaran darah.
Tekanan darah dan nadi dipertahankan dengan infuse D – 5, PZ atau RL, kalau perlu dengan cairan koloid (Expafusin atau Dextran). Bila terjadi “ cardiac arrest’ dilakukan RJP.

II. Eliminasi.
Bertujuan menghambat penyerapan racun,kalau dapatmenghilangkan bahan racun atau hasil metabolismenya dari tubuh penderita.
1. Emesis, merangsang penderita supaya muntah dengan cara :
- mencolok farings dengan telunjuk atau pangkal sendok.
- Minum sirup ipecac 15 – 30 ml., karbon aktif (norit ) baru boleh diberikan setelah emesis terjadi.
Kontraindikasi pemberian ipecac :
• Kesadaran menurun.
• Keracunan bahan korosif.
• Keracunan minyak tanah.
• Obat-obatan konvulsan.

2. Katarsis (“intestinal lavage “), dengan laksans.
Untuk racun yang tidak dapat diserap melalui saluran cerna atau diduga telah sampai di usushalus dan usus tebal.
Kontraindikasi tindakan intestinal lavage :
- keracunan bahan korosif, adanya dugaan kelainan elektrolit.
Bahan laksans yang berbahaya untuk dipakai rutin : laksans iritan, cairan hipertonik, MgSO4.
Beberapa bahan laksans yang dapat dipakai secara aman :
1. -Na. ulfat : 30 gram dalam 20 – 250 ml air (1 gelas)
2. na. fosfat (fleet’s Phospho-soda’) 15 – 60 ml diencerkan sampai seperampatnya.
3. Sorbital / manitol (20 -4 %) : 100 – 20 ml.

3. Kubah Lambung (gastric lavage).
Indikasi :
- Emesis tidak berhasil.
- Keadaran menurun.
- Tidak kooperatif.

Paling efektif bila KL dikerjakan dala 4 jam setelah keracunan.
Kontraindikasi :
- Keracunan bahan korosif.
- Keracunan minyak tanah.
- Keracunan bahan konvulsan.
- Adanya gangguan elektrolit.
KL dilakukan dengan pipa lambung besar no. 22, 32 atau pipa Lavine no. 12. Pada anak dengan ukuran Fr 8 – 12. Pemberian cairan untuk KL tidak bo
Boleh terlalu banyak, karena dapat menambah kecepatan penyerapan obat yang telah masuk.
Komplikasi KL :
- Aspirasi pneumonia.
- Perforasi.
- Perdarahan.
- Trauma psikis.
- Gagging dan cardiac arrest.


Catatan ;Emesis, Katarsis, dan Kumbah Lambung hanya dilakukan pada keracunankurang dari 4 jam. Pada koma derajat sedang sampai brat (tingkat III –IV), juga pada keracunan minyak tanah atau bensin, KL dikerjakan dengan bantuan pipa endotrakeal berbalon, untuk mencegh pneumonia aspirasi.



TIPS & TRIK EKSTRIM MELAMAR PEKERJAAN

MEMBUAT WEBSITE ITU GAMPANG

BUAT WEBSITE SENDIRI ONLINE & GRATIS

Luka Dan Fraktur


Pendahuluan


Pengertian dari luka adalah rusak atau hilangnya sebagian jaringan kulit, dan Fraktur adalah terputusnya kesinambungan sebagian atau seluruh tulang atau tulang rawan.
Trauma pada Ekstrimitas.
Kita tidak mengesampingkan luka ekstrimitas pada saat mencurahkan perhatian kepada hal-hal yang mengancam jiwa pasien.walaupun kita tetap memperhatikan :
1. Survei Primer (ABC)
Bila ada cedera ekstrimitas yang mengganggu ABC (misalnya Syok karena perdarahan aktif), harus dilakukan penanganan dalam bentuk mengontrol perdarahan.
2. Survei sekunder. Saat ini diperhatikan kerusakan pada ekstrimitas.

Hal yang harus kita pikirkan antara lain;
1. Memprioritaskan trauma ekstrimitas dan luka apabila mengancam ABC.
2. Dapat mengenali komplikasi yang berat dan pengobatan dari luka ekstrimitas :
- Fraktur.
- Dislokasi.
- Amputasi.
- Luka terbuka.
- Luka Neurovaskular.
- Keseleo.
- Impaled Objects.
- Sindrom Kompartemen..
3. Mengetahui jumlah darah yang hilangdari pelvis dan fraktur ekstrimitas.

Syok hemoragik adalah bahaya potensial dari cedera otot dan tulang. Hanya pada laserasi yang langsung dari arteri atau fraktur dari pelvis atau femur yang sering disertai dengan perdarahan yang cukup untuk menimbulkan syok. Luka pada syaraf atau pembuluh-pembuluh darah yang menyediakan darah bagi tangan dan kaki adalah merupakan komplikasi yang sering terjadi. Kerapkali luka menyebabkan kehilangan fungsi yangditemukan pada kerusakan neurovaskuler. Oleh karena itu mengenai sirkulasi dan neurologist distal adalah sangat penting.
Perlu diingat : Saat survey Primer, fraktur tulang panjang dan pelvis dapat menyebabkan syok.
Saat Survei Sekunder, selalu periksa neuro-vaskuler distal.

Fraktur
Fraktur bisa terjadi dengan patahnya tulang dimana tulang bisa tetap berada di dalam (fraktur tertutup) atau diluar dari kulit (fraktur terbuka).
Fraktur ujung tulang yang sangat tajam dapat menyebabkan bahaya untuk jaringan lunak (biasanyaotot sedikit banyak akan ikut rusak) yang mengelilingi tulang tersebut. Syaraf dan pembuluh darah yang berjalan dekat tulang dapat ikut terluka.

Tanda-tanda Fraktur :
1. Nyeri ,bengkak.
2. Perubahan bentuk.
3. Memar, kemerahan.

Fraktur tertutup sama bahayanya dengan fraktur terbuka karena luka dari jaringan lunak menyebabkan perdarahan yang banyak. Sangat penting untuk mengenal adanya luka di dekat patahan tulang, karena bisa menjadi pintu masuk dari kontaminasi dengan kuman.
Fraktur tertutup femur dapat menyebabkandarah lebih dari satu liter, apalagi bila kena kedua femur, ini dapat menyebabkan perdarahan yang mengancam jiwa.
Fraktur pelvis dapat menyebabkan perdarahan yang dapat masuk ke abdomen dan daerah retroperitoneal. Pada pelvis dapat terjadi beberapa fragmen fraktur pada beberapa tempat dan setiap fraktur dapat menyebabkan kehilangan darah sebanyak 500 cc. Fraktur pelvis dapat pula menyebabkan robekan pada kandung kemih atau pembuluh darah pelvis yang besar. Keduanya dapat menyebabkan perdarahan yang fatalke dalam abdomen. Perlu di ingatfraktur yang multiple dapat mengancam jiwa walaupun tidak terlihat darah yang keluar.


























A. Fraktur tertutup.
B. Fraktur terbuka

Pengelolaan Fraktur.
Dengan Bidai, antara lain :
1. Bidai Rigid (kaku).
2. Bidai Soft (lunak).
3. Bidai udara (Airsplint).
4. Vacuum.
5. Tractiont Splint.

Selalu diingat untuk memeriksa vulsasi sebelum dan sesudah pemasangan Bidai.
Bila dicurigai ada fraktur di Servikal / leher, pasang Neck Collar.dan bila curiga fraktur Torakal / lumbal , pasang Long Spin Board (LSB)



TIPS & TRIK EKSTRIM MELAMAR PEKERJAAN

MEMBUAT WEBSITE ITU GAMPANG

BUAT WEBSITE SENDIRI ONLINE & GRATIS





Sirkumsisi (lebih dikenal dengan istilah Sunat atau Khitan)


Pendahuluan

A. Batasan

Sirkumsisi (lebih dikenal dengan istilah Sunat atau Khitan) merupakan tindakan pembuangan dari sebagian atau seluruh kulup (prepisium) penis dengan tujuan untuk kesehatan atau lainnya.

B. Indikasi dilakukannya tindakan sirkumsisi adalah :
1. Anjuran Agama.
2. Sosial.
3. Karena pertimbangan Medis, antara lain: fimosis(lubang kulupyang kecil sehingga mengganggu dan menimbulkan sakit saat kencing, parafimosis (keadaan dimana kulup / preputium tidak bisa ditarik kedepan dan menjepit batang penis), pencegahan agar tidak terjadi tumor karena terkumpulnya smegma, kondiloma akuminata.

C. Kontra indikasi dilakukan sirkumsisi, adalah :

1. Terjadinya Hipospadia yang terjadi sejak lahir / congenital, yaitu lubang uretra yang terbentuk berada dibawah penis,sehingga perlu dilakukan tindakan bedah dengan menggunakan prepusium sebagai flap uretroplasti
2. Penyakit kelainan darah dan Hemofili
3. Penyakit diabetes.


D. Anatomi dari Penis :

Struktur penis yang penting dan harus diketahui adalah:
1. ada 2 buah korpus kavernosum, yang terletak di bagian dorsal penis.
2. Satu buah korpus spongiosum yang terletak di bagian ventral.
3. pembuluh darai Arteri dan saraf nervus dorsalis penis, yang berada dibawah fasia Buck.
4. Fasia buck yang membungkus korpus kavernosum, korpus spongiosum dan struktur lainnya
5. bagian Uretra psrs spongiosa yang teletak di dalam korpus kavernosum

Sebelum melakukan tindakan Sirkumsisi, yang harus diketahui adalah kondisi pasien.

Pasien harus dipersiapkan telebih dahulu, antara lain :

1. Bila pasien sudah besar, maka dilakukan pencukuran rambut fubis terlebih dahulu.
2. Melakukan pendekatan terhadap anak terlebih dahulu, agar anak bisa kooperatif saat dilakukan tindakan.
3. Menanyakan riwayat penyakit anak, bila ada riwayat alergi obat atau lainnya.
4. Menjelaskan kepada orang tua anak mengenai tindakan yang akan dilakukan.
5. Memberikan salep anastesi local /Amla, xylocain spray pada penis anak satu jam sebelum tindakan, agar saat dilakukan injeksi anastesi tidak terlalu sakit.

Persiapan Alat yang harus disediakan :

1. 4 buah klem arteri, (lurus dan berujung panjang.
2. 1 buah Needle holder.
3. 1 buah klem Kocher dan tang.
4. 1 buah Pinset cirurgis.
5. 1 buah Pinset Anatomis.
6. 1 buah Gunting Mayo lurus.
7. 1 buah gunting Mayo lengkung.
8. 6 buah klem Musquito lengkung.
9. 2 buah klem Halstead lengkung.
10. 1 buah Gagang pisau no.3
11. 2 buah Kom tempat betadine dan Alkohol

Bahan Yang diperlukan :

1. Catgut no. 2-0 atau 3-0 (round body dengan jarum).
2. Lidocaine 3 % secukupnya.( dalam ampul)
3. Hand scun sesuai ukuran.
4. Kassa steril secukupnya.
5. sufratulle atau yang sejenisnya.
6. Betadine sol 1 buah.
7. Spuit 3 ml 1 buah.Needleno. 26 1 buah.
8. Salep Antibiotik 1 buah.
9. Salep bioplacenton ( bila sirkumsisi menggunakan tehnik Cauter)
10. Alkohol .
11. Plester.


Persiapan Sirkumsisi :

1. Lakukan tindakan septic dan antiseptic, dengan membersihkan daerah penis
menggunakan betadine Sol dari arah dalam dengan memutar keluar.
2. Oles penis dengan kasa alcohol sebelum dilakukan anastesi.
3. Pasang kain duk bolong untuk mempermudah tindakan dan membatasi daerah steril.
4. Lakukan suntikan blok saraf didaerah Nervus Dorsalis, tegak lurus di pangkal penis, sampai terasa seperti menembus kertas / berarti telah menembus fasia buck.
Lakukan aspirasi untuk meyakinkan bahwa suntikan tidak masuk ke pembuluh darah.lalu suntikan zat anastesi 1 – 3 ml.
5. Lakukan suntikan Infiltrasi pada prenulum dibawah penis (ring block), lakukan aspirasi dan bila tidak ada darah, suntikan zat anastesi 1 – 2 ml.
6. Tunggu efek maksimal anastesi (kira-kira 5 menit, bila sudah mulai bekerja dapat dilakukan melepaskan perlengketan prepusium dengan hati-hati.
7. Bersihkan gland penis dari smegma dengan kassa steril.
8. Oleskan betadine sol didaerah glan penis.


Macam-macam Tehnik Sirkumsisi.

A. Tehnik operasi Dorsumsisi.

Tahapan tindakan

:1. Prepusium dijepit pada lokasi jam 11, 1 dan jam 6.
2. Prepusium diinsisi diantara jam 11 dan jam 1 kearah sulkus koronarius glandis,dan
sisakn mukasa –kulit kira-kira 2 – 3 mm dari bagian distal sulkus, kemudian buat
tali kendali.
3. Lakukan insisi secara melingkar kea rah kira dan kanan sejajar dengan sulkus.
4. Pada bagian frenulum (di bawah penis) insisi dibuat agak meruncing.
5. Lakukan pengikatan pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan.
6. Buat tali kendali di jam 3 dan jam 9.
7. Lakukan penjahitan di frenulum antara mukosa dengan kulit membentuk angka 8.
8. Lakukan penjahitan mukosa – kulit di sekeliling penis.
9. Beri salep antibiotic di sekeliling luka.
10. Beri Sufratulle di sekeliling luka.
11. Tutup luka dengan kassa steril dan diplester.


B. Tehnik Operasi Guillotine / klasik.
Adalah tehnik sirkumsisi dengan cara dilakukan penjepitan antara prepusium secara melintang pada sumbu panjang penis, kemudian prepusium yang berada diatas klem dipotong,

Tahapan tindakan :

1. Setelah prepusium dipotong, lakukan pengikatan pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan.
2. Lakukan penjahitan di frenulum antara mukosa dengan kulit membentuk angka 8.
3. Lakukan penjahitan mukosa – kulit di sekeliling penis.
4. Beri salep antibiotic di sekeliling luka.
5. Beri Sufratulle di sekeliling luka.
6. Tutup luka dengan kassa steril dan diplester


C. Tehnik Operasi dengan Cauter.
Adalah tindakan sirkumsisi dengan menggunakan alat cauter(sekarang sudah tersedia dengan berbagai Merk).Kelebihan alat tersebut adalah hampir tidak terjadi perdarahan, karena pemotongan prepusium dilakukan dengan menggunakan mata cauter yang membara, sehingga akan langsung menghentikan perdarahan.

Tahapan Tindakan :

1. Batasi gland penis dan prepusium yang akan dipotong dengan menjepit menggunakan Klem peans lurus panjang sehingga pada saat dicauter tidak akan mengenai gland penis.
2. Lakukan pemotongan prepusium dengan mata cauter secara hati-hati.
3. Olesi dengan Bioplacenton luka bekas Cauter, karena ini merupakan luka bakar.
4. Lepaskan klem, dorong penis secara hati-hati sampai gland penis terlihat.
5. lakukan penjahitan di sekeliling
6. Lakukan penjahitan mukosa – kulit di sekeliling penis.
7. Beri salep antibiotic di sekeliling luka.
8. Beri Sufratulle di sekeliling luka.
9. Tutup luka dengan kassa steril dan diplester


TIPS & TRIK EKSTRIM MELAMAR PEKERJAAN

MEMBUAT WEBSITE ITU GAMPANG

BUAT WEBSITE SENDIRI ONLINE & GRATIS

Pengkajian Terhadap Pasien Trauma


Tujuan
Untuk mengidentifikasi dan mengkaji pasien yang datang dengan cedera traumatic.

Indikasi.
Pasien datang dengan tersangka menderita cedera traumatic.

Peralatan.
Penlight, pencatat trauma.

Prosedur
1.Melakukan pemeriksaan primer :
Pemeriksaan primer merupakan pengkajian awal yang dilakukan oleh perawat UGD.
Keadaan yang mengancam keselamatan jiwa diidentifikasi pertama kali, dan
penatalaksaan secara bersamaan mulai diberikan ;

a.Mempertahankan jalan napas dan imobilisasi servikal spinal adalah prioritas
utama dalam perawatan trauma.
Upaya untuk mempertahankan jalan napas dimulai dengan melakukan jaw trust-chin
lift dan mengeluarkan darah, muntahan, atau kotoran lain untuk membebaskan
jalan napas.

Tipe kebutuhan akan jalan napas pasien ditentukan oleh
status jalan napas pasien. Pemasangan jalan napas oral atau nasal adalah tindakan
tepat bila terdapat masalah jalan napas.
Dilakukan intubasi endotrakeal atau krikotirotomi bila patensi jalan napas
pasien tidak dapat dipertahankan.
Perhatian khusus diberikan terhadap adanya kemungkinan cedera servikal
spinal dan pencegahan terhadap kerusakan yang berlanjut dengan menghindari
hyperfleksi atau hyperekstensi leher.

b. Kaji pernapasan pasien dengan merasakan aliran udara dari mulut dan hidung
pasien.
Dada pasien dibuka untuk mengobservasi adanya usaha pasien untuk bernapas dan
observasi ekspansi simetris bilateral dada.

Lakukan auskultasi terhadap bunyi napas atau suara menghisap pada dinding dada
yang terbuka.
Bila pasien mengalami pernapasan inadekuat, lakukan bantuan napas dengan
ventilasi buatan dengan aliran oksigen yang tinggi.

c. Curah jantung dikaji lebih awal dengan melakukan palpasi nadi terhadap
intensitas atau kekuatan, kualitas, dan
Keteraturan. Adanya nadi perifer menandakan tekanan darah sistolik minimal
8 mm Hg.

2. Melakukan pemeriksaan sekunder :

a. Tengkorak dan wajah diperiksa untuk mengetahui adanya cedera seperti fraktur, trauma pada permukaan, atau karena benda tajam. Mata harus diperiksa terhadap gerakan ekstraokuler, perubahan penglihatan, dan hemoragi subkonjungtiva. Respon dan ukuran pupil dievaluasi kembali. Telinga dan hidung diperiksa untuk mengetahui adanya perdarahan atau kebocoran cairan spinal. Mulut pasien harus dievaluasi untuk mengetahui adanya gigi yang lepas atau maloklusi.

b. Leher harus dipalpasi dan dilihat setelah imobilisasi lengkap. Observasi terhadap trauma, deviasi trakeal, edema, patensi jalan napas, dan distensi vena leher. Lakukan palpasi sepanjang tulang belakang untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan empisema kutaneus.


c. Observasi dada terhadap adanya trauma permukaan, pergerakan paradoksal dinding dada, dan retraksi kostal. Palpasi terhadap nyeri tekan, fraktur, dan krepitus. Lakukan auskultasi untuk mengetahui adanya bunyi napas dan bunyi jantung abnormal atau lemah. Periksa kembali nadi dan upaya bernapas untuk mengetahhui perubahan dari pengkajian primer. Evaluasi tekanan darah dan irama jantung.

d. Inspeksi abdomen untuk mengetahui adanya trauma permukaaan, luka ke dalam atu luka terbuka, dan distensi. Lakukan auskultasi bunyi usus pada empat kwadran sebelum dilakukan palpasi. Palpasi abdomen mengacu pada qadanya kekakuan, guarding, nyeri tekan, dan nyeri. Pasien tersangka menderita cedera abdomen dan gangguan tingkat kesadaran mungkin memerlukan lavase peritoneal, tomografi komputerisasi, atau laparotomi eksplorasi untuk menangani cedera intra abdominal. Pemasangan NGT dilakukan untuk memeriksa adanya darah dalam lambung. Kateterisasi uretral mengobservasi dan urinalisis untuk gross hematuri membantu dalam mengevaluasi cedera genitalia.


e. Observasi terhadap edema jaringan, hematoma, atau adanya massa suprapubik pada pelvis dan genitalia. Palpasi pelvis untuk mengetahui adanya ketakstabilan tulang. Pemeriksaan rectum dilakukan untuk mengetahui adanya perdarahan, lokasi prostate, dan tekanan spingter. Observasi terhadap adanya trauma testicular, dan lihat adanya darah pada meatus penile.

f. Evaluasi ekstrimitas terhadap adanya cedera dengan menginspeksi adanya deformitas atau kontusio. Palpasi terhadap adanya nyeri tekan atau kriptus. Indikasi lain adanya trauma musculoskeletal meliputi menurunnya kekuatan, pergerakan yang salah, dan pembengkakan. Adalah penting untuk mengevaluasi kembali esktrimitas secara teratur terhadap warna, pergerakan, dan sensasi. Nadi perifer dan warna kulit harus dibandingkan. Kemungkinan adanya fraktur harus dilakukan splint, imobilisasi, dan di evaluasi dengan rontgen.


g. Semua pasien dengan trauma harus diperiksa secara posterior. Punggung pasien harus dievaluasi untuk mengetahui kelainan yang sama seperti yang didapat saat pemeriksaan sekunder.

h. Evaluasi ulang terhadap tingkat kesadaran dan reaksi serta ukuran pupil sangat penting. Kemudian pemeriksaan nuerologis lebih dalam meliputi respon sensorik dan motorik dari ekstrimitas dilakukan.


Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!

Pemberian Oksigen Pada Pasien

Pemberian oksigen selalu diperlukan bila keadaan penderita buruk.
Indikasi pemberian oksegen adalah antara lain :
- pada saat resusitasi jantung paru (RJP)
- setiap penderitatrauma berat.
- Setiap nyeri pre-kordial.
- Gangguan paru seperti asthma, COPD.
- Gangguan jantung seperti decompensasi cordis.
Pemberian oksigen tidak perlu disertai alat pelembab (humidifier) karena pemberian singkat.

Cara pemberian oksigen dapat dengan :
a. Kanul hidung (nasal canule).
Kanul hidung lebih dapat ditolerir oleh anak-anak, face mask akan ditolak, karena merasa dicekik. Orang dewasa juga kadang kadang menolak face mask karena dianggap mencekik. Kekurangan kanul hidung adalah dalam konsentrasi oksigen yang dihasilkan.
Pemberian oksigen melalui kanul tidak bisa lebih dari 6 liter/menit karena tidak berguna untuk meningkatkan konsentrasi dan iritatif untuk penderita.
b. Face mask (rebreathing mask)..
Masker dengan lubang pada sisinya.
Pemakaian face mask dalam pemberian oksigen lebih baik dibandingkan kanul hidung, karena konsentrasi oksigen yang dihasilkannya lebih tinggi..
c. Non Rebreathing Mask.
Pada face mask dipasang reservoir oksigen yang mempunyai katup. Bila diinginkan konsentrasi oksigen yang tinggi, maka rebreathing mask paling baik.

Konsentrasi oksigen menurut cara pemberian :
Udara bebas : 21 %
Kanul hidung dengan O2 2ltr/menit (LPM) : 24 %
Kanul hidung dengan O2 6 LPM : 44 %
Face mask (rebreathing 6 – 10 LPM) : 35 – 60%
Non rebreathing mask ( 8 – 12 LPM) : 80 – 90 %


TIPS & TRIK EKSTRIM MELAMAR PEKERJAAN