KUMPULAN ARTIKEL

MOTIVASI

ASKEP

LIFESTYLE

HEALTH

BLOGGING


Minggu, Juni 21, 2009

Epistaksis (Perdarahan hidung)

Epistaksis sering ditemukan sehari-hari, dan mungkin hampir 90% dapat berhenti dengan sendirinya (spontan) atau dengan tindakan sederhana yang dilakukan oleh pasien sendiri dengan jalan menekan hidungnya. Pada epistaksis berat, walaupun jarang dijumpai, dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal, bila tidak ditolong dengan tepat. Etiologi Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab lokal dan umum (kelainan sistemik). Sebab-sebab lokal

a. Trauma.
Epistaksis dapat terjadi setelah trauma ringan, misalnya waktu mengeluarkan ingus dengan kuat, bersin, mengorek hidung atau akibat trauma yang hebat, seperti terpukul, jatuh dan sebagainya. Selain dari itu iritasi oleh gas yang merangsang, benda asing di hidung dan trauma pada pembedahan, dapat juga menyebabkan epistaksis.

b. Infeksi
Infeksi hidung dan sinus paranasal, seperti rinitis, serta granuloma spesifik, sifilis, lupus, lepra dapat menyebabkan epistaksis.

c. Neoplasma.
Hemangioma, karsinoma serta angiofibroma dapat menyebabkan epistaksis berat.
D. Kelainan kongental.
Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis ialah perdarahan teleangiektasis herediter.

Sebab-sebab sistemik.
A. Penyakit kardiovaskular.

Hipertensi dan kelainan pembuluh darah.
b. Kelainan darah. Misalnya trombositopenia, hemofilia, leukimia.
c. Infeksi. Demam tifoid, influensa dan morbili dapat menyebabkan epistaksis, yang paling sering ialah demam berdarah.
d. Perubahan tekanan atmosfir.
e. Gangguan endokrin. Pada wanita hamil, menstruasi, menopause sering terjadi epistaksis.

Sumber Perdarahan. Pada umumnya terdapat 2 sumber perdarahan, yaitu dari bagian anterior dan bagian posterior.

Terapi.
Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis, yaitu menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi, dan mencegah berulangnya epistaksis.
1. Menghentikan perdarahan.



Menghentikan perdarahan secara aktif, seperti kaustik dan pemasangan tampon, lebih baik daripada pemberian obat hemostatik sambil menunggu epistaksis dengan sendirinya. Jika pasien datang dengan epistaksis datang, maka pasien harus diperiksa dalam posisi duduk, tetapi bila sudah lemah, dengan meletakkan bantal di belakang punggungnya. Dengan bantuan alat penghisap untuk membersihkan hidung dari bekuan darah. Dicari sumber perdarahan, beri tampon yang telah dibasahi dengan adrenalin, masukkan ke dalam rongga hidung.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar